Thursday, October 23, 2008

Alumni Luar Negeri, Aset Bangsa - Sebuah jawaban dari calon alumni luar negeri

Saya baru saja membaca artikel menarik bertajuk: “Alumni Luar Negeri, Aset Siapa?” yang ditulis oleh Eri Sudewo (Republika Online, 2008; dimuat ulang di web site PPI Belanda). Kalimat terakhir dalam artikel tersebut lebih menarik lagi “.. ingat, there is no free lunch. Tanpa pesan kebangsaan, alumni pendidikan luar negeri telah jadi asset mereka yang asing-asing. Sampai kapan ini disadari? (K. Prawira)”

Membaca artikel tesebut saya jadi terhenyak, sebagai salah seorang penerima beasiswa luar negeri, saya sama sekali tidak menyadari taktik politik seperti ini sebelumnya. Mungkin karena saya bukan pengamat politik dan apalagi saya tidak tertarik mengenai bidang politik dsb.

Hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara maju biasanya memiliki suatu perjanjian kerja sama yang pada intinya berniat sebagai sebuah hubungan simbiosis mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Negara maju memberikan dana beasiswa kepada pelajar-pelajar Indonesia, dengan salah satu tujuan yang mulia: turut mencerdaskan generasi masa depan. Terlepas dari taktik politik ‘kotor’ dan lain-lain. Taktik politik terselubung tersebut, tidak pernah terlintas dalam pikiran seseorang atau calon pelajar, yang berniat sepenuh hati untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya hingga ke luar negeri dengan beasiswa luar negeri, dengan bermodalkan otak dan kemauan.

Meraih beasiswa luar negeri bukan perkara mudah, seperti yang dibayangkan oleh banyak orang. Melalui sistem persaiangan terbuka, sama sekali tidak ada istilah KKN, korupsi, kolusi dan nepotisme. Pengalaman saya yang telah mencoba berbagai peluang beasiswa sejak tamat sarjana untuk meraih beasiswa master, hingga kemudian lulus master dan berjuang lagi untuk meraih beasiswa program doktoral, mengajarkan pada saya, bahwa tiap organisasi pemberi beasiswa memiliki persyaratan mutlak yang pada dasarnya sama, dan hanya beberapa hal yang berbeda bagi tiap-tiap negara. Meraih beasiswa luar negeri harus bermodalkan kemampuan intelegensia, kemampuan berbahasa inggris, selain itu semangat tinggi, kemampuan untuk beradaptasi dan tentu saja modal biaya awal. Untuk mengikuti tes TOEFL atau IELTS, tes potensi akademik, atau pengurusan dokumen-dokumen. Itu semua membutuhkan biaya awal yang tidak sedikit. Jadi sebenarnya tidak tepat kalau disebutkan pelajar yang meraih beasiswa dengan modal ‘dengkul’. Pasti ada biaya dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih.

Kembali ke kalimat di akhir artikel Eri Sudewo, saya tidak sepenuhnya setuju. Mungkin itu terjadi, atau seharusnya hal itu tidak perlu terjadi. Sebagai contoh, penerima beasiswa dari pemerintah negeri Belanda dengan model sandwich sistem, dimana pelajar diharuskan untuk melakukan sebagian besar risetnya di negara asal dan melakukan penulisan tesis dan ujian di negeri Belanda, biasanya justru harus kemabli ke negeri asal, Indonesia. Karena penelitian yang dilakukan oleh para student sangat erat kaitannya dengan topik dan pembangunan yang sedang berkembang di dalam negeri. Lagi pula, peluang beasiswa umumnya lebih terbuka bagi pegawai negeri, baik dosen maupun peneliti, dimana mereka memiliki kewajiban untuk kembali ke Indonesia setelah pendidikannya berakhir. Kesempatan belajar hingga ke jenjang akhir dengan sistem beasiswa seperti ini dan kontrak yang mengikat dengan instansi asal, saya anggap justru menguntungkan Indonesia, karena alumni luar negeri, mau tidak mau harus pulang kembali mengabdi ke Indonesia. Jikapun ada, kecil kemungkinan bagi para alumni dengan status PNS ‘melarikan diri’ dengan mencari pekerjaan di luar negeri, apalagi jika bidang yang ditekuni lebih sesuai bagi pembangunan Indonesia. Namun sebaliknya, jika bidang keahlian ‘hi-tech’, mungkin malah sang alumnus yang kurang nyaman jika harus kembali pulang ke Indonesia, dengan alasan keterbatasan fasilitas yang tersedia di instansi asalnya tidak sebanding dengan fasilitas yang selama studi telah dikecapnya.

Pemerintah hendaknya mencermati fenomena ini, jika ingin warga negaranya yang berpotensi dan berpendidikan tinggi kembali pulang ke tanah air untuk mengamalkan ilmunya dan bersama-sama membangun bangsa. Sampai kapan Indonesia terpuruk dalam ketidakberdayaan memajukan bangsanya sementara negeri ini kaya raya sumber daya alam dan manusia?

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, “alumni luar negeri aset siapa?” Menurut saya pribadi, alumni luar negeri adalah aset bangsa. Bagaimana caranya? Pemerintah dalam hal ini instansi asal tempat sang alumnus bekeja harus menyediakan suasana kondusif bagi sang alumnus (dan juga bagi karyawan lain) sehingga dapat bekerja dan berkarya sebaik-baiknya. Alasan tidak dapat melakukan riset dan publikasi jurnal, karena keterbatasan sarana dan prasarana, sering kali menjadi alasan klasik. Sepanjang ada niat baik dan semangat kerja, peluang dana untuk melakukan riset yang bermanfaat bagi banyak orang, selalu terbuka. Keinginan untuk berubah ke arah yang lebih maju dengan pemikiran yang terbuka dan mau menerima kritik serta saran dari pihak luar, sangat diperlukan demi kemajuan bersama. Suasana kerja yang kondusif dengan fasilitas yang memadai akan membuat para alumni luar negeri tidak patah arang sebelum pulang ke Indonesia,

Ini tentu lebih baik dari pada tidak berbuat apa-apa atau tidak peduli dan bekerja di luar negeri demi kepentingan diri sendiri, walaupun pilihan hidup itu adalah hak asasi manusia.

Monday, October 6, 2008

Journey of thousand miles to Ph.D.

I got good news from Prof. Marinus last Friday that my thesis has been passed to be defended in December 15th, 2008. The defense ceremony will take place at Akademie gebouw, Utrecht Universiteit, Domplein 29, at 12.45. Many thanks God for your lordliness.
From now on, I must prepare for my public defense ceremony. This event could make up the Ph.D. candidate deadly nervous, I was told.
And I remember:
"The journey of a thousand miles begins with but a single step (Confucius)". My Ph.D. started with a single step by completing my Master degree. And thousand miles to Wageningen, when I had opportunity to visit CBS, and then becoming million miles for 5 years of my sandwich Ph.D. at Utrecht University, which enable me to come and back regularly every year to this windmills country. Yes, it is very long journey for my Ph.D.
Since then, I've decided my goals. "Goals are a like a map. They help us determine where we want to end up, and give us personal direction on which to focus our energy (Chatarine Pulsifer)".

When I am looking at back after I started my study, many important happy, sad and even tragic moment happened in my life, which I could not mention them one by one. Only with love, understanding and support from family, my father and mother, my sisters with their families, and relatives, I could manage family life and study life. Support from supervisor, like Pak Meine did, was really appreciated.

And now is the time:
... Enjoy your achievements as well as your plans. Keep interested in your own career however humble; it is a real possession in the changing fortunes of time.
...

And whether or not it is clear to you, no doubt the universe is unfolding as it should. Therefore, be at peace with God,whatever you conceive Him to be. And whatever your labors and aspirations, in the noisy confusion of life, keep peace in your soul. With all its sham, drudgery, and broken dreams, it is still a beautiful world. Be cheerful. Strive to be happy.
"Desiderata" by Max Ehrmann (1927).


Monday, September 15, 2008

Korupsi Waktu

Ini tulisan lawas oleh Pak Syam yang terbit di Kompas 2004. Tapi topiknya masih tetap menarik. Saya upload tulisan ini dalam blog ini, sebagai suluh bagi saya, yang juga seorang pegawai negeri. Pegawai negeri di seluruh penjuru tanah air, terkenal sebagai pegawai yang suka korupsi waktu. Tapi, saya tidak mau di cap seperti itu. Bagi saya, bekerja itu tidak hanya mengikuti jam kerja yang berlaku, tapi bisa juga dilakukan di rumah atau di perjalanan jika perlu. Dan saya yakin, tidak sedikit pegawai negeri yang bekerja dengan sungguh-sungguh, tanpa mengenal waktu. Semoga saya dan anda termasuk di dalamnya, sehingga kita tidak turut bikin negara bangkrut.


Korupsi Waktu
Oleh Sjamsoe’oed Sadjad

SEORANG rakyat yang memerlukan pelayanan datang ke suatu ruang kantor pemerintah pukul delapan pagi. Yang ditemui meja- kursi kosong. Tak satu pegawai negeri sipil abdi negara pun yang tampak. Pukul 08.30, orang itu ke warung kopi di sudut kantor. Di sana ditemui 4-5 PNS sambil merokok sibuk mengobrol soal korupsi miliaran rupiah.
Dalam benak kita, masalah korupsi selalu terkait hitungan dalam rupiah, jutaan atau miliaran. Kalau korupsi waktu, itu sudah jamak. Pukul 08.00 harus mulai bekerja, terlambat satu jam tak apalah. Makin tinggi pangkat, datang telat dua jam dianggap lumrah. Padahal itu berarti dia tidak melayani orang yang membutuhkan untuk waktu dua jam sehari. Belum waktu pulang. Seharusnya pulang pukul 17.00, satu jam sebelumnya sudah nongkrong di bus karyawan sambil baca koran. Dia tak peduli berapa orang yang bisa menerima pelayanan bila dia masih bekerja.
COBA kita hitung. Apabila pegawai negeri sipil (PNS) di negeri ini berjumlah 3,5 juta orang, dan tiap hari mengorupsi waktu satu jam, bukankah itu berarti 3,5 juta jam sehari rakyat kehilangan kesempatan untuk dilayani? Hitung saja, bila setahun PNS harus bekerja 5 minggu x 75 hari/minggu x 7 jam/hari = 1.750 jam/tahun, dan gaji yang diterimanya Rp 8,4 juta/tahun, maka setiap jam berarti menerima Rp 4.800.
Dengan korupsi waktu satu jam sehari, seluruh PNS di negeri ini mengorupsi uang rakyat sebesar 3,5 juta x Rp 4.800 = Rp 16 miliar. Ini korupsi sehari, dan hanya satu jam di pagi hari. Belum lagi korupsi satu jam di sore hari. Juga, belum lagi kalau gajinya lebih besar dari Rp 700.000/bulan.
Bayangkan, bila gajinya Rp 150 juta/bulan seperti gaji Dirut Pertamina. Hitung saja, bila datang ke kantor pukul 10.00. Belum para dosen di perguruan tinggi yang datang ke kampus hanya kalau memberi kuliah.
Anehnya, rakyat tidak merasa dirugikan. Rakyat tidak sadar uangnya "digerogoti". Apa karena negeri ini "gemah ripah loh jinawi" sehingga kehilangan Rp 16 miliar/hari masih bisa tertawa? Kehilangan kayu dari hutan yang miliaran dollar AS sehari juga masih bisa cengengesan. Belum utang kita! Ironis memang, tetapi kita ditakdirkan jadi bangsa yang sabar.
Mungkinkah angka-angka itu ditanyakan kepada calon presiden dan calon wakil presiden pada putaran kedua? Bagaimana mereka menjawabnya. Bila jawabannya klise, itu mah gampang.
Mungkin jawabnya, penegakan disiplin dalam tubuh PNS. Pertanyaan berikut, bagaimana caranya? Apa perlu ada pengawasan ketat? Untuk tiap PNS, apa perlu ada job description? Apa mereka siap melakukan rasionalisasi. Jangan-jangan belum apa-apa sudah dikaitkan dengan kecilnya gaji, seperti membandingkan dengan China, yang rasio antara gaji pejabat tinggi dan rendah tidak besar seperti pada kita. Sebenarnya yang ingin didengar yang pragmatis. "How to get everything done well" dan yang benar.
MENGHADAPI berbagai kelemahan, yang diperlukan sebenarnya bagaimana menciptakan triggers. Tindakan kecil, tetapi dampaknya luar biasa besar. Lihat saja, kalau kita tarik picu pada senjata, beberapa peluru bisa meleset sampai ke sasaran. Itu kerja triggering.
Contoh lain seperti yang dikerjakan Gubernur Jawa Timur Moh Nur. Warga di desa disuruh membereskan dan menertibkan pagar-pagar di sekeliling rumah dan pekarangannya. Kecil saja upaya ini, tetapi dampaknya bukan main. Desa menjadi tertib, dinamis, dan warganya lalu lebih besar semangat berkaryanya. Ibu-ibu di desa aktif mencari nilai tambah dari pekarangannya. Triggering tidak hanya berupa tindakan. Sebuah tulisan juga bisa menjadi trigger. Siapa tahu tulisan yang menghitung-hitung kerugian masyarakat karena korupsi waktu oleh PNS bisa menggugah kesadaran kita. Siapa tahu ini bisa sebagai trigger.
Dalam upaya menegakkan disiplin, kita juga memerlukan trigger. Saya kira, cara seremonial seperti model apel, sumpah Korpri, kurang efektif. Semua itu tidak menimbulkan gereget, sehabis apel, bersumpah, kembali begitu lagi.
Para pemimpin kita yang katanya akan membawa pembaruan nanti perlu mempunyai keahlian menciptakan trigger yang bagi rakyat "tanpa merasa, tahu-tahu" kok bisa berdisiplin. Semua PNS juga "tahu-tahu" dengan sendirinya, kok bisa tidak menjalani korupsi waktu, meski tanpa "gaji ke tiga belas". Bukan main pemimpin kita kalau bisa melakukannya. Lima tahun lagi dia kita pilih lagi.
Semoga negeri ini benar-benar bisa tertib, aman, tenteram dan sejahtera.

Sjamsoe’oed Sadjad Guru Besar Emeritus IPB (terbit di koran Kompas, Sabtu, 17 Juli 2004 )

Efteling

Just a day after thesis submission, I fulfilled my promise to Anya to have a vacation to Efteling, an amusement park close to Den Bosch. It was the last day of her summer holiday, but it was a sunny and bright day to spend weekend together.

We traveled to Efteling by train from Utrecht to s’Hertogenbosh, and continued by bus to the Efteling. Many visitors were coming, due to the last day of summer vacation, but we had not long queue to buy ticket. The first amusement we visited was “Panda” corner. We did not have any idea what it is about. We found a movie with 3D screen in the first theater. First, we did not interested and just wanted to leave the theater, but it was closed already. Being patient, we watched the movie. After the first movie has been played, we moved to the second theater with bigger screen and many seat rows and the movie began. Wow amazing! The story began with polar bear life; turtle and creature life under sea and about tropical forests where orang utans live. How people disturb nature that create global climate change. This very good movie, that suppose to increase awareness to protect nature and wild life. Anya learnt about what global climate change is about.

We had fun with roller coaster, which need effort to be in long queue. Lifted up to see Efteling area with “Pagoda”. But we did not try adventure in a canoe or boat. We spend our time much in a fairy tale area; to see a story of ‘Long Neck’, Rampusel, a girls with the red coat and little mermaid. We did not miss the mysterious villa, where we could experience with 360 oC rotate room. I have no idea, how does it work. There was no stuffs in the room fell down, though the seat in the room was rotated 360 oC for several times!

Anya enjoyed this day much. Finally, she had a story to tell her friends when she go went back to school in the coming day.

Wednesday, September 3, 2008

Thankfulness

During the last few weeks, the weather in Utrecht was not so nice: cloudy, windy, rainy and cold. We had only nice weather on last weekend. Perhaps the last good weather on this summer. Now, I’m feeling that autumn is coming. This tipical Ducht weather: unpredictable! Well, it’s fine. I enjoy the weather by wearing coat outside and wearing pashmina as my blanket inside office. Although already a year I stay here in Holland, but I did not get used to this weather. In the contrast with Bogor, I never feel very cold, although the precipitation in Bogor is higher than in Holland. Sometimes, we have heavy rain in Utrecht. Like yesterday, I was biking in the heavy rain, hence I was totally wet when arrived at home. I got headache :-(.

Anyway, I’m survive :-). I released from pressure due to deadline of thesis submission. I submitted my thesis to the reader committee last Saturday. Thanks God, nothing is possible without your bless. I could not imagine that I could finish my thesis on time without kind cooperation from all of my supervisors. They provided me good supervision, guidance and supports. I'm indebtful for all of them.

As realization of my thankfulness, Anya and I went to Alphen a/d Rijn last Saturday for doing pooja and celebrating Hindu’s festival: Galungan and Kuningan, together with other Hindus in Netherlands. This was the first time I joined them. Instead of ‘jam karet’, a term for out of the schedule, the festival was great. The OC entertained us with dance performance, music and delicious food.. hhmmm yummy! I just aware, there are many Hindus from Indonesia in Holland.

Special person to be thank is Anya, my daughter. She sacrifices a lot during these times. She is very kind and fully understanding. She did not have good moment during her summer vacation, because I did not have time to accompany her to spend the holiday. Finally, after submission, we could go together to Efteling, an amusement park close to s-Hertogenbosch, like Disneylend. It was nice day and nice park as well. Anya was happy, finally she had nice trip in the last day of her summer vacation.

My father, mother and Joko who pray a lot for my study are very respectful. I thank my sisters and their families for kind support on their way for my study. This an a very early thank for all who close with me. Later, I will write down 'formal thanks' in my thesis for all who colaborated in my project.

Now, I’m preparing for presentation at CBS and Biology department as a practice for public defense. The last part is nearly approaching, and I still have to struggle for it. Wish me best of luck.

Thursday, July 17, 2008

Master Oogway mencapai Moksa

Minggu kemarin, sambil melepas penat dari tugas-tugas rutin dan deadline, akhirnya saya penuhi janji saya kepada Anya untuk nonton film di bioskop. Film yang sudah dia tunggu-tunggu, karena promo di TV sangat gencar. Tadinya saya malas untuk nonton, tapi setelah dikirimi resensi filmnya oleh seorang kawan baik, Eva Suarthana, saya jadi tertarik. Resensi filmnya yang ditulis oleh Santhi, saya copy-paste diakhir blog ini.

Film kartun dengan tajuk "Kung Fu Panda" ini tidak hanya ditujukan untuk anak-anak, tapi juga untuk dewasa, yang tentu saja menemani anak-anaknya menonton film. Satu yang ingin saya tambahkan untuk resensi tersebut adalah, walaupun film ini mengenai fabel, tapi kisahnya adalah legenda yang dapat dijadikan cermin bagi umat manusia. Humanity itu bersifat universal. Tapi saya kagum dengan pengarang cerita ini, dia mahfum mengenai moksa, yaitu bersatunya atman dengan paratman, atau bersatunya jiwa-raga dengan Sang Pencipta, dimana seseorang mati tanpa meninggalkan jasad, atau 'pergi' bersama-sama dengan jiwa dan raga. Di ceritakan Master Oogway, setelah menasihati Master ShiFu, dia mengatakan bahwa "ini waktuku untuk pergi". Hanya seseorang yang telah mumpunilah yang bisa mengetahui kapan waktunya untuk 'pergi' dan kemana jalan dan tujuannya 'pergi'. Master Oogway lalu lenyap dari pandangan mata, setelah bunga-bunga surgawi bertebaran memanggilnya.

Berikut resensinya:

1. *The secret to be special is you have to believe you're special.*

Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri.

Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa. Seperti kata Master Oogway, *You just need to believe*

2. *Dont give up on your dreams*.

Po , panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri?

Seperti kata Master Oogway, *Yesterday is history, tomorrow is a mistery, today is a gift, that's why we call it "PRESENT" --> *kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya
disebut Present (hadiah).

Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

3. *Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.*

Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po . Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu adalah satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4. *Every individual have their own way to learn and their own motivation*

Shi Fu akhirnya menemukan cara bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.

5. *Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata
kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang
salah*.


Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak
melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.

Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/ murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu.

Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak
kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.

6. *Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal
dalam hatimu.*


Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

7. *Family is the most important thing in this world*.

Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu.

Keluarga ada elemen terpenting yang ada di dunia ini. Mereka adalah orang pertama yang akan merasakan kesusahan kita, orang pertama yang memberikan dukungan terbesar pada saat kita membutuhkannya, dan orang pertama yang akan melindungi dan mau berkorban untuk kita.

Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?

Saturday, July 5, 2008

A basket of cherries


Cherry (Prunus spp.) or ‘kersen’ (in Nederlands) is a drupe fruit, yellow to red in colour when fruit is ripe, sour to sweet taste. During June –July, they sold in market after blooming in May.

I am as Indonesian know cherry, but when I am in Holland, people called cherry as ‘kersen’, which is in bahasa Indonesia we refer ‘kersen’ as different fruit. I was confusing when I found ‘kersen’ name in front of a box with full of cherry. Kersen or cherry is a common name of Prunus spp, but not kersen in bahasa Indonesia, which refer to Muntingia calabura.

I was eager to know how the tree looks like. Cherry is a medium tree; habitus straight and cylindrical bole. Leathery leaves; beautiful white flower. I just notice that a tree in front of our house is a cherry, but I only saw one tiny cherry few weeks ago. Perhaps, birds like them all and left only a few of them.

Today, I bought a basket kersen or cherry in the open market of Wageningen. I paid 3.5 euro for 2 kg! It’s very cheap compare to normal price in Utrecht, which is 3.5 euro for only 0.5 kg. The vendor kindly gave us 5 mandarijn (sweet orange) for free. He wanted to finish all fruits he is selling today. Hmm.. it is very nice. We went back home happily with a basket of cherries in hand :-)